berita perusahaan

Para peneliti di Universitas Harvard menemukan bahwa orang sukses sering kali menunjukkan kecenderungan untuk tidak mengikuti tradisi. Misalnya, dalam dunia perdagangan yang serius, orang cenderung memakai kaus kaki berwarna cerah.

Studi yang disebut "Efek Sepatu Merah" meneliti reaksi orang-orang terhadap produk di bawah standar dan bagaimana hal itu membentuk persepsi mereka terhadap produk di bawah standar, seperti orang yang mengenakan sepatu kets merah dalam lingkungan profesional.

Ini menyimpulkan bahwa ketidaksesuaian biasanya diartikan sebagai konsumsi yang mencolok, semacam status tinggi dan kepercayaan diri.

Penelitian kami meneliti bagaimana pengamat pihak ketiga menjelaskan pelanggaran norma konvensional ini berdasarkan status dan atribusi kemampuan. Kami membuktikan bahwa perilaku yang tidak memenuhi syarat sebagai sinyal yang mahal dan terlihat dapat bekerja sama dengan konsumsi yang jelas, dan dibandingkan dengan perilaku yang memenuhi syarat, dapat disimpulkan bahwa status dan kemampuan orang lain ditingkatkan.

Sebaliknya, orang dengan status rendah dalam organisasi lebih cenderung untuk secara ketat mematuhi kode berpakaian.

109 wanita dewasa direkrut di pusat kota Milan. Di antara mereka, 52 adalah asisten penjualan di butik-butik yang menjual merek-merek seperti Armani, Burberry, Christian Dior, La Perla, Les Copains, dan Valentino. 57 peserta yang tersisa direkrut di Stasiun Pusat Milan dan memiliki sedikit pengalaman bekerja di butik.

Peserta diminta untuk mendeskripsikan pendapat mereka tentang seseorang berdasarkan situasi tertulis dari wanita yang memasuki butik kelas atas. Dalam satu kasus, wanita fiktif itu digambarkan sebagai "mengenakan pakaian olahraga dan jaket". Mereka diberi banyak pertanyaan untuk menentukan apakah menurut mereka wanita itu adalah pelanggan mewah atau VIP.

Ternyata para asisten toko dan wanita lainnya memberikan nilai tinggi kepada wanita tidak berkualifikasi yang mengenakan pakaian olahraga. Untuk asisten toko yang terbiasa dengan lingkungan penjualan butik, tren ini bahkan lebih kuat.

Dalam studi kedua artikel ini, para peneliti mempelajari pakaian non-tradisional di lingkungan profesional.

Untuk tujuan ini, 159 peserta direkrut dari Universitas Harvard di Boston. Mereka sekali lagi mendapatkan gambaran tentang kostum dan biografi orang imajiner, dalam hal ini profesor universitas.

Lebih jauh lagi, semakin banyak seseorang memakai, semakin tinggi statusnya. Dalam lingkungan profesional, profesor yang memakai kaos sebagai pengganti jas juga dianggap memiliki level yang lebih tinggi.

"Fashion chic" dari hoodies dan T-shirt adalah kode berpakaian industri teknologi, terutama Silicon Valley.

Aspek ketiga dari studi Harvard mempertimbangkan tingkat ketidaksesuaian yang disengaja untuk menandai diri sendiri sebagai mandiri dan menarik perhatian.

Dalam dunia kencan, ini disebut “Peacock Screening”, dan bentuknya yang cerdik bisa dilakukan di kantor.

Studi tersebut menemukan bahwa jika meja rias di bawah standar di tempat kerja dianggap memiliki status yang lebih tinggi, maka dianggap disengaja, bukan sekadar kecelakaan.

Para peneliti menunjukkan bahwa produk yang memenuhi persyaratan ini sudah ada di pasaran, seperti sebungkus kaus kaki tanpa korek api.


Waktu posting: Sep-08-2020